SEKILAS PNPM MANDIRI PERKOTAAN

Tahun 2008 secara penuh P2KP menjadi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM Mandiri Perkotaan).

Tampilkan postingan dengan label '-Ekonomi Bergulir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label '-Ekonomi Bergulir. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Februari 2013

DANA BERGULIR SEBAGAI PENGGELIAT KELOMPOK PEMATUNG TRADISIONAL BALI


DANA BERGULIR SEBAGAI PENGGELIAT KELOMPOK PEMATUNG TRADISIONAL BALI

Om Swastiastu…….

Untuk medirikan sebuah usaha tidak bisa lepas dari sunberdaya modal (uang)  disamping sumberdaya yang lainnya, seperti tempat usaha, peralatan, ketrampilan dan juga kemampuan untuk  memasarkan barang  yang akan dihasilkan (Pemasaran) serta pematenan hak cipta/karya. Kalau berbicara masalah modal sudah tentu tertuju pada lembaga keuangan (Lembaga Keuangan/Bank) atau usaha keuangan sejenisnyadimana untuk mendapatkan bantuan modal/kredit usaha tentu ada persyaratan yang harus dipenuhi termasuk lazimnya adalah agunan dan ijin usaha, bahkan sekarang bukti wajib pajak aktif. Untuk masyarakat ekonomi menengah ke atas agunan mungkin tidak menjadi masalah  tapi sebaliknya  akan  menjadi  masalah/hambatan bagi masyarakat kita yang kurang mampu/ekonomi lemah (miskin) ; hal ini dilami oleh kelompok usaha kerajinan patung  kayu yang ada di Banjar Anggabaya  Kelurahan Penatih  Kecamatan  Denpasar Timur Provinsi Bali


Beruntung ada BKM BINA SEJAHTERA hasil pembelajaran substansi PNPM Mandiri Perkotaan dengan memberdayakan masyarakat lokalnya melalui pembelajaran BLM TRIDAYA yang bervisi meningkatkan daya social, ekonomi dan lingkungan dalam ikatan masyarakat pembangunan yang partisipatif;  Khusus dalam kesempatan ini kami paparkan terkait simbiosis substansi  Daya Ekonomi (UPK) PNPM-MP melalui bentuk kegiatan DANA BERGULIR yang memfasilitasi akses mendapatkan modal usaha kecil untuk kalangan WARMIS hasil PS2. Contoh kasus di wilayah Kelurahan PENATIH ini; Dengan bantuan  modal  dari UPK, usaha kecil  produktif  semakin menggeliat dan berkembang sampai dengan sekarang, meskipun pergerakannya merangkak namun pasti.
Sebut saja KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) PATUNG ANA  yang sejak awal sudah berkelompok dengan visi dan misi yang sama; berdiri sejak Tahun 2000 yang awalnya sebagai usaha sampingan untuk tambahan penghasilan keluarga karena setiap anggota mempunyai pekerjaan pokok sesuai dengan bidangnya  masing-masing. Ada yang jadi petani, peternak, pelajar/mahasiswa dan juga pedagang. Pekerjaan membuat patung dilakukan disela-sela waktu rutinitas mereka sehari-hari,  Keberadaan UPK ini menjadikan sedikit berubah pola fikir anggota kelompok ini; “Mengapa kita tidak lebih focus bila ada permodalan yang mudah dan fleksible pengajuannya !”


Muncullah minat terkait mengakses permodalan kecil ke UPK  BKM BINA SEJAHTERA, ceritanya demikian; Dalam wawancara kami, beliau  “ I Made Ana” selaku ketua kelompok patung,  mengatakan rata-rata penghasilan per orang per hari berkisar antara Rp.30,000 sampai dengan Rp.50,000,- sesuai dengan jumlah patung yang bisa diselesaikan serta menurut penuturan salah satu anggota KSM, penghasilannya dari mematung sangat berarti untuk menunjang kebutuhan ekonomi keluarga. Karena makin bertambahnya peminat warga ikut bergabung menjadi pematung yang awalnya beranggotakan 5 orang kemudian berkembang menjadi 10 orang dan di Tahun 2013 bertambah menjadi 15 orang sehingga untuk memenuhi kebutuhan bahan baku perlu tambahan  modal untuk membeli bahan baku yang didatangkan dari luar Pulau Bali.
Mengingat hal tersebut dan juga makin meningkatnya orderan/permintaan patung dari Art Shop yang ada di daerah Sukawati  yang memiliki PASAR SENI yang banyak dikenal oleh wisatawan, baik Domestik maupun Manca Negara, maka KSM Patung Ana 1 yang beranggotakan 10 orang dan KSM Patung Ana 2 yang beranggotakan 5 orang kemudian mengajukan proposal pinjaman dana ke UPK BKM BINA SEJAHTERA Kelurahan Penatih  sebesar Rp.20,000,000 dan RP.10,000,000  yang dananya bersumberdari PNPM-MandiriPerkotaan. Perlu diketahui bahwa UPK di BKM BINA SEJAHTERA – PENATIH ini memiliki modal Modal Rp.73,500,000 dengan nilai perguliran saat tulisan ini dibuat adalah Rp.84,600,000,- serta diakhir tahun kemarin dalam  rapat SHU memiliki laba Rp.3,236276,- dengan jumlah KSM ada 15 aktif, Salah satu pemanfaatnya adalah KSM PATUNG ANA ini dengan diketuai oleh I Made Ana.  Setelah melalui proses verifikasi oleh UPK dan juga sepengetahuan dari Fasilitator pendamping akhirnya pada hari  jumat;18 Januari 2012  UPK  bersama –sama dengan AnggotaBKM yang dikoordinir oleh I Ketut Bina,SE dan Fasilitator Tim 7 Kota Denpasar mengunjungi sekaligus verifikasi keberadaan KSM Patung Ana yang berlokasi di Br.Anggabaya untuk melakukan penajaman dan survey yang ditindaklanjuti dengan menyerahkan Dana Modal lewat kredit usaha kecil  yang di kelola oleh UPK dan sekalian memberikan sosialisasi pemahaman  kepada  KSM  sehingga penggunaan dananya sesuai dengan peruntukannya sebagaimana diatur dalam PEDUM serta SOP UPK.
Sampai saat ini  KSM Patung Ana telah terfasilitasi  bantuan  permodalan  ketiga kalinya, bantuan modal pertama sebesar Rp.5,000,000,- kedua Rp.10,000,000,- dan pengembaliaannya sangat lancer sehingga direkomendasikan diberikan bantuan modal yang ketiga bila memang KSM PATUNG ANA mengajukan kembali, bahkan kelanjutannya akan diupayakan untuk di channelingkan ke lembaga keuangan/perbangkan yang ada seperti BRI yang pernah mensosialisasikan terkait integrasi  permodalan  pada KSM PRODUKTIF  hasil pembelajaran substansi program (PNPM MANDIRI PERKOTAAN) yang disampaikan langsung oleh Direktur Program BRI pusat (Jakarta) bersama Bpk.Sujana Royat. Dalam hal ini masih dipelajari tindaklanjutnya oleh pihak BRI terkait pola fasilitasinya agar tak berubah dari konsep program PNPM-MP, tak hanya itu bahkan BKM BINA SEJAHTERA akan berupaya memfasilitasi terkait KSM-KSM produktif ini untuk mendapatkan fasilitasi Pelatihan Kapasitas terkait Managemen Pengelolaan Usaha dan Keuangannya serta Kreasi Model Patungnya.

Ini contoh kecil dari upaya program untuk menyemaikan konsep-konsep pembelajaran pada masyarakat, khususnya kelompok garis bawah “WONG CILIK” untuk secara mandiri kreatif serta berjuang untuk bertahan hidup juga meningkatkan DAYA SOSIAL EKONOMInya guna menjawab tantangan jaman yang semakin berat, maka tak hanya sampai disini pembelajaran dan perjuangan yang diwujudkan, namun masih perlu waktu dan keseriusan  serta kepedulian semua pihak guna mensejahterakan tatanan kehidupan bangsa ini; tak cukup hanya bicara dan bermimpi, namun lebih pada penguatan serta penajaman VISI dan ACTION agar perubahan tersebut terwujud dan mengakar.

Om Santhi, Santhi, Santhi Om.











Ditulis Oleh : I KadekWidana,
Senior Fasilitator Kota Denpasar


DARI ROMBONG JADI MOBIL


BERKAT DANA BERGULIR (UPK) DARI ROMBONG JADI MOBIL
Banyak hal yang dapat dipetik dari pembelajaran substansi program, baik terkait bagaimana memaksimalkan kehidupan social kita di komunitas warga, juga bagaimana kita kreatif untuk bisa secara mandiri merangkak pada perubahan hidup yang lebih sejahtera serta peduli menuju sebuah tatanan yang madani. PNPM MANDIRI PERKOTAAN menyemaikan pembelajarannya melaui sebstansi prestisiusnya yang semuanya bergantung pada tingkan kepedulian, partisipasi dan kreatifitasnya dalam menatap tantangan hidup ini, yang pada initinya adalah mencolek kita semua sebagai mahluk social apakah masih memiliki nilai-nilai kemanusian dan value “nilai-nilai yang perlu diperjuangkan”. Dari proses pembelajaran PNPM MP sejak Th.2007 di Pulai Bali, setitik harapan perubahan itu kini dapat dirasakan serta dilihat keberadaannya langsung, meski belum banyak serta maksimal hasilnya tapi inilah langkah menuju perjuangan sejati. Salah satu gambaran tersebut adalah Gusti Ayu Ariani, yang secara singkat kami paparkan dibawah ini :

Mengawali usaha berjualan lawar bali pada tahun 1994   dengan modal pas-pasan membuat Ibu Gusti Ayu Ariani  berinisiatif  meminjam dana bergulir UPK, setelah adanya sosialisasi oleh BKM Sedana Yoga- Desa Dauh Puri Kaja.   Pada awal Januari 2009 Ibu Gusti dan suaminya mendapatkan tambahan modal dari BLM masing-masing Rp.500.000,00. Modal ini digunakan untuk menambah porsi dagangan dan menu lain yaitu krupuk kulit babi dan minuman botol. Sebulan berjalan ternyata memang benar  omzet penjualan bertambah. Demikian juga dengan keuntungan yang didapat. Sebelum mendapatkan modal dari PNPM ia hanya meperoleh untung sekitar Rp.200.000 per hari,sedangkan sekarang bisa mencapai Rp.300.000-Rp.400.000 per hari.


Saat ini setelah memperoleh dana bergulir UPK  bu Gusti sudah bisa mendapatkan keuntungan yang lebih sehingga bisa membeli sebuah mobil pickup yang digunakan untuk berjualan. Jika awalnya sarana berjualan hanya sebuah rombong saat ini mobil pick up dirasakan lebih praktis karena tidak perlu lagi mendorong dagangan sampai tempat berjualan. Astungkara sekarang kalau lagi ramai omsetnya bisa mencapai Rp.1.5 juta,kata bu Gusti. Saya berjualan pukul 17.00-21.00 WITA di perempatan jalan Bedahulu-Gatot Subroto, ujarnya. Bu Gusti sudah banyak punya langganan karena sudah lama berjualan dan tempat berdagang yang cukup strategis. Sekarang saya masih meminjam dana bergulir dengan plafon maksimal 2juta, pinjaman itu digunakan untuk menambah lagi jenis dagangan dengan makanan ringan seperti gorengan dan aneka snack. Ya, ada saja yang beli, apalagi disini dekat supermarket, karyawannya banyak yang mampir kesini, ujar bu Gusti Ariani.

Sebelumnya ibu Gusti adalah seorang penjahit baju. Karena usahanya ini dianggap kurang menguntungkan,apalagi suaminya I Gusti Ngurah Sucita hanya bekerja sebagai pemungut  sampah dari rumah ke rumah  di lingkungan jalan Gatot Subroto VI ,lalu sekitar tahun 1994 ia dan suaminya mencoba usaha berjualan lawar babi. Modal awal berjualan diperoleh dari keuntungan menjahit dan hasil penjualan mesin jahit yan digunakan untuk membeli  rombong. Selain itu ibu dengan 4 orang anak ini pada waktu itu juga meminjam kredit di BRI (sekarang sudah lunas).


Dengan berjualan lawar babi hasilnya memang lebih menguntungkan ,karena setiap hari selalu saja ada pembeli yang datang. Sejak ada sosialisasi dana bergulir dari Progam PNPM Mandiri-Perkotaan sekitar bulan Agustus 2008 di Dusun Teruna Sari Desa Dauh Puri Kaja oleh BKM Sedana Yoga, ibu Ariani berencana untuk menaikkan omzet penjualannya. Di mana  sebelumnya ia berjualan dengan modal paling banyak Rp.500.000 per hari dan omzet penjualannya Rp. 700.000. Ia dan suaminya kemudian bergabung dalam KSM Sandat yang anggotanya juga para pedagang.
Setiap hari ibu Ariani ditemani anaknya berbelanja daging babi di pasar Badung. Begitu juga setiap sore  ia  dibantu dua anak laki-lakinya berjualan di perempatan jalan Bedahulu. Dengan adanya stimulan BLM dana bergulir ibu Ariani merasa bersyukur, keuntungan penjualannya bertambah dan keempat anaknya masih tetap bisa sekolah.

Gambaran diatas adalah sebuah gambaran kecil namun bernilai yang cukup dasyat buat pembelajaran kita semua guna sikapi hidup ini, jangan pernah pandang besar kecilnya sebuah ilmu; Namun pandanglah sejauh mana ilmu itu dapat bermanfaat buat menggelindingkan isi otak anda guna membuat loncatan lebih jauh terhadap masalah kehidupan kita kini. 
Salam Sukses………………………..

Ditulis oleh : Cok Ita Timtayanti
Senior Fasilitator Kota Denpasar